Oleh Agustinus Tetiro

Beberapa perempuan dalam hubungan asmara yang samar dengan seorang pastor menolak label ‘gundik’. Salah satunya adalah Louise Iushewitz. “Michael adalah suamiku dan aku istrinya,” ujar Louise (54) pada 1994 tentang seorang Jesuit yang menjadi pasangan asmaranya.

Sejarawan lulusan McGill University, Kanada Elizabeth Abbot menulis kisah Louise dan Michael, SJ pada sebuah bagian dalam bukunya berjudul A History of Mistresses (2010). Penulisan itu ilmiah karena berdasarkan korespondensi dan wawancara yang intens antara Elizabeth dan Louise selama Januari 2001. Tulisan singkat ini disarikan dari bagian tulisan Abbot itu. (terjemahan bahasa Indonesia lihat Elizabeth Abbot, Wanita Simpanan. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2013, hlm. 198-201)

Dikisahkan, ketika berusia 16 tahun, Louise ingin menjadi seorang mahasiswi filsafat di universitas Chicago. Di kampus, gadis cantik itu bertemu dengan seorang asisten pengajar filsafat berusia 32 tahun. Tampan, bermata biru, karismatik dengan tawa yang diatur untuk diperdengarkan secara super.

Louise tidak pernah mengetahui kalau Michael adalah seorang Jesuit hingga berusia 18 tahun. Dia dan seorang mahasiswi lain bertaruh US$ 5 untuk berkencan dengan sang dosen muda. Louise kemudian keluar sebagai pemenang: dia mampu mengajak sang Jesuit berkencan.

“Aku takut masuk neraka,” katanya ketika mengetahui siapa Michael sebenarnya. Toh, Louise berasal dari keluarga katolik yang taat. Akan tetapi, beberapa waktu kemudian, dia berdamai dengan dirinya sendiri, menjadi kekasih seorang Jesuit.

Ketika berusia 19 tahun, Louise dan Michael tinggal bersama di sebuah apartemen di Hyde Park. Di sana, untuk pertama kalinya mereka melakukan hubungan seks. Michael sangat telaten. Terlatih. Dia memberikan Louise sebuah bacaan stensilan murahan. Ternyata Michael sudah mempunyai kekasih lain.

Kenyataan lainnya, ternyata Michael juga adalah seorang penyuka minuman keras. Hidup mereka pada hari-hari setelah itu diceritakan Louise sebagai “benar-benar menjadi buruk”. Michael merasa bersalah karena implikasi spiritual atas pekerjaannya sebagai pastor. Tentu, setelah Louise merasa bersalah sejak awal.

Anehnya, Michael selingkuh dengan perempuan lain. Louise juga tidur dengan lelaki lain. Suatu saat, Louise hamil. “Aku tidak akan aborsi, karena aku katolik,” ujar dia.

Louise akhirnya menikah dengan lelaki lain. Namun, rasa bersalah terus mengejarnya. Kehidupan pernikahannya tidak bahagia. Menurut dia, ketidakbahagiaan itu adalah kutukan Tuhan karena dia pernah tidur dengan seorang pastor.

Setelah 14 tahun berpisah, Michael dan Louise bertemu lagi. Mereka bersama-sama memasak, belanja, berdebat, bercinta dan merawat anak-anak yang menyapa ‘Daddy’ kepada Michael.

Michael yakin para pejabat Jesuit tahu tentang dirinya. Tetapi, mereka tida mengambil tindakan apapun selama tindakan Michael tidak menjadi skandal umum. Kesucian berarti setia pada satu orang---Louise.

Abbot juga menulis, kemiskinan adalah hal yang tidak relevan bagi para Jesuit Amerika. Patuh pada provincial, bukan pada paus, terutama Yohanes Paulus II yang dipandang sebagai “Anti-Kristus”. Sementara untuk seks, Michael yakin bahwa merasakan orgasme penuh “sama dekatnya saat kau bisa memahami intensitas cinta Tuhan”

Suatu kali, Michael mengajak Louise menikah. Louise tahu, itu sebuah keputusan berat. Dia tahu bahwa rohaniwan yang memilih menjadi awam akan selalu mendapat penolakan dan penghinaan.

Ketika Michael meninggal, sama seperti jutaan gundik pastor lainnya dalam lintasan sejarah, Louise tidak memiliki tuntutan atas kekasihnya. Michael hanya meninggalkan untuknya US$ 5000.

Tentang jatuh cintanya yang pertama di ruang kuliah filsafat itu, Louise menulis, “Aku manusia berakal. Harga diri dan kebahagiaanku adalah kemampuan analitisku. Michael memenuhi semuanya. Aku berdoa ketika misa, aku berbahagia karena pernah memiliki Michael dalam hidupku”

Beberapa waktu lalu, kita dikagetkan dengan berita tragedi Lela tentang kisah asmara Herder dan Merry Grace. Herder seorang pastor dan Merry Grace diceritakan sebagai mantan biarawati. Perjalanan dan akhir kisah asmara kedua pasangan itu mungkin berbeda, karena terjadi dalam dua konteks social yang berbeda. Persamaannya adalah kisah asmara itu melibatkan kaum berjubah.

Suatu saat, saya berharap ada yang cukup berani menulis kisah-kisah seperti ini dalam konteks kita sini dan kini. Tentu tidak meluluh sebuah usaha penelanjangan, tetapi keberanian menyingkap kebenaran untuk suatu maksud agar bisa dijadikan pelajaran. Bukannya salah satu ciri orang bijak adalah dia yang bisa belajar dari pengalaman orang lain?

Kita tentu tidak ingin terjadi kekerasan dan penyiksaan lagi. Saya ingat kata-kata mendiang Mgr Abdon Longinus di Ritapiret beberapa tahun lalu, “Kalau imam-imam saya jatuh cinta, saya hargai. Jatuh cintalah secara berkualitas, agar kita dengan bahagia mengurus pernikahannya secara sah. Bukan memanipulasi para tukang masak di pastoran. Itu jago kandang! Percayalah, bila engkau menjadi imam yang baik, engkau akan menjadi suami dan bapak yang baik ketika engkau kemudian memilih jalan itu.”

(Jakarta, 12 Maret 2013)

Mosa Yoga: Sbg pentobat dan pemeberi sakramen tdk ada hakim yg mmegang palu.Ketika seoang sdrku mengatakn gantung dia di Monas saya merasa bukan dia yang berkata tetapi 'saya sudah tergantung'.Mnjadi seorang pastor dan hidup selibat adalah ikrar pribadi.Kita sesama isi rumah.Sy sll teriris hatiku, kitika mmbaca tulisanmu maupun mmbaca orang2 yg mengomentari.Kita2 bgmn Krstus Tuhan masa depan sdrku! Selamt pagi.

Yohana Fransisca: Saya suka dengan kata-kata mendiang Mgr. Abdon Longginus yang tidak "menghakimi" imam-imamnya bila mereka akhirnya tak bisa bertahan dengan kaulnya. Imam juga manusia !

Oscar Demere: bagus buat permenungan bersama. mereka jg manusia tetapi,ingat jg, banyak dr mereka jg,sdh jatuh dan tidak mau berubah/bertobat. akhirnya benar2 nekat utk keluar dr imamatnya. inti dr itu adalah, bagaimana dia dekat dgn Tuhan dlm kesehariannya.. kl seorng pastor, tekun dlm doa dan pelayanan.. godaan apapun itu akan bisa diatasi.

Post a Comment

  1. Sekedar mengkritisi kehidupan menggereja untuk umat katolik hendaklah lebih diberi keseimbangan antara keperluan dunia dan akhiratnya, karena banyak dari kepemimpinan hirarki gereja tidak memberi arahan hal tersebut, arahan gereja terlalu menerawang ke Surga, sedangkan bumi yang kita injak memerlukan taktik setrategi untuk mensiasati dalam menerapkan iman kita. Bagaimana kita bisa menolong sesama bila kita sendiri masih tertatih-tatih dalam kehidupan didunia ini. Sering kita hidup dalam kepura-puraan dalam kegiatan sosial untuk menolong sesama, mendatangi dan mendoakan orang sakit/ berkesusahan sedangkan pulang ke rumah kita dihadapkan persoalan keluarga yang notabene kita pribadi perlu pertolongan.

    ReplyDelete

Christiano Nino

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0KcB2zJnuygeQjuecFzerrdkJpWZjyc8k76xsSkJSYMvB1hBZ-ZeMlntNmkpzcrmw_Wq-qHT-4nT0FPZSQ_iKzZdSHTD15SptneHQe1cqWEc5IY_6dJwpfI6NOghNFmHB6TYCMY6oEtI/w439-h438-no/533552_10151083932251805_1888338930_n.jpg} Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam et lacus porttitor, ullamcorper enim ut, dictum ante. Curabitur odio tortor, molestie at justo vitae, ornare auctor eros. Ut risus purus, viverra quis nibh pharetra, dignissim commodo nisi. Maecenas vitae nisi elementum, pulvinar sem non, condimentum turpis. Aliquam ac eros vitae justo venenatis feugiat. Pellentesque pellentesque fringilla tellus, tincidunt cursus eros dapibus at. Aliquam sagittis quis ex vitae hendrerit. {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}
Powered by Blogger.